Batu Bara, Antara Kemakmuran kemudian Kelestarian Lingkungan
Bisnis

Batu Bara, Antara Kemakmuran kemudian Kelestarian Lingkungan

Potensial sumber daya dan juga cadangan batu bara besar yang dimaksud dimiliki Indonesia perlu dimanfaatkan secara optimal. Tidak cuma berperan penting pada transisi energi, batu bara juga harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan data Badan Geologi, sumber daya batu bara Indonesia masih 99,19 miliar ton lalu cadangan sebesar 35,02 miliar ton.

Ezra Leonard Sibarani, Wakil Ketua Umum Indonesia Pertambangan Association, menyatakan jikalau merujuk pada data cadangan dari Kementerian ESDM, apabila produksi batu bara diasumsikan 700 jt ton per tahun, cadangan batu bara baru akan habis 47-50 tahun ke depan.

Jika dipakai sendiri untuk keinginan di negeri yang digunakan diproyeksi 200 jutaan per tahun dengan kalkulasi tren peningkatan Electric Vehicle, umur cadangan batu bara sanggup sampai 150 tahun.

“Jadi masih panjang kemudian kalau kita mengawasi 2060 NZE, berarti ketika itu masih ada batu bara yang digunakan banyak. Nah ini mau diapakan,” kata Ezra di Sarasehan bertajuk “Peran Krusial Batu Bara pada Transisi Energi” yang mana dilakukan Energy and Penambangan Editor Society (E2S) ditulis Selasa (19/12/2023).

Selain Ezra, sarasehan menampilkan pembicara Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen Minerba Kementerian ESDM Lana Sari; Senior Vice President Penguraian Batu Bara PT PLN Energi Primer Indonesia Eko Yuniarto; Praktisi Teknologi Boedi Widatnodjo, juga Kepala Pusat Kebijakan Keenergian ITB Dr Retno Gumilang Dewi.

Ezra mengungkapkan ketika ini tentangan di transisi energi menuju pemanfaatan energi baru terbarukan adalah biaya yang dibutuhkan sangat besar, mencapai Rp3.500 triliun.

Kebutuhan dana yang dimaksud besar untuk mencapai target dekarbonisasi atau Net Zero Emission (NZE) pada 2060 salah satunya untuk memensiunkan sejumlah pembangkit listrik bertenaga batu bara. Padahal pembangkit mampu tetap saja dioperasikan dengan menggunakan teknologi baru yang lebih besar ramah lingkungan.

“Dengan masih adanya batu bara dan juga biaya yang mahal untuk transisi energi, kenapa tak masih memanfaatkan batu bara,” kata dia.

Ezra menyatakan lantaran kemungkinan batu bara yang tersebut besar, IMA merekomendasikan untuk mempertimbangkan apakah dapat menggunakan batu bara tambahan dari 2060.

Selain akibat batu bara mempunyai peran penting, biaya transisi energi dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan sangat besar.

“Kita harus mempertimbangkan baik-baik, jangan sampai kita utang lebih lanjut banyak ke anak cucu,” katanya.

Menurut Ezra, pemerintah perlu mempertimbangkan acara jangka pendek kemudian panjang untuk pemakaian batu bara di area PLTU secara bersih sambil mempertimbangkan pembiayaan EBTKE secara bertahap.

“Jadi konsepnya clean coal. Kalau bisa jadi pemerintah bisa jadi pertimbangkan hal ini jadi yang dikurangi emisinya. Jadi jangan sampai memberatkan keuangan negara juga jangan terlalu cepat transisi sehingga apa yang mana kita punya mampu dipakai secara maksimal,” kata Ezra.

Eko menyatakan di tempat Jawa Bali pada 2024, keperluan batu bara naik 90 jutaan ton. Demikian pula di area Sumatera, Kalimantan lalu Sulawesi permintaan batu baranya bergabung tumbuh.

“Pada 2025 ada penurunan permintaan batu bara sebab ada beberapa PLTU yang tersebut secara umur sudah ada pensiun,” kata Eko.

Dia mengungkapkan perkembangan batu bara sampai 2030 masih akan bertambah permintaannya dalam 153 jt ton pada 2030.

“Paralel dengan peningkatan demand, cofiring juga naik, green energy-nya juga naik tapi tetap saja kalah kontribusi dari pertumbuhan PLTU,” ungkap Eko.

Lana Saria, mengakui peranan batu bara makin penting sebab pemanfaatan energi terbarukan di dalam masa transisi energi pada waktu ini baru sekitar 2% dari peluang yang ada.

“Batu bara pada waktu ini masih dominan 42,4%, dihadiri oleh BBM 31,4% lalu gas juga NRE. Jadi masih menjadi sumber energi utama, lantaran peluang batu bara masih sangat besar berbeda dengan sumber energi lainnya,” ungkap Lana.

Pada 2023, target produksi batu bara nasional mencapai 694,5 jt ton. Produksi yang disebutkan ditujukan untuk DMO 176,8 jt ton serta ekspor 517,7 jt ton.

“Untuk produksi sampai November mencapai 710,75 jt ton batu bara. Dengan asumsi produksi rata-rata per bulan 64,6 jt ton, hingga akhir tahun diproyeksi sebesar 775,17 jt ton atau 111% dari target tahun 2023,” kata Lana.

Sebagian besar cadangan batu bara Indonesia miliki kalori sedang (5.100-6.100 kal/g) yakni 54% lalu kalori rendah <5.100 kal/g) 34%.

Tidak belaka sebagai penopang sumber energi nasional, kontribusi batu bara bagi penerimaan negara juga cukup besar.

Melalui royalti terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), kontribusi batu bara tercatat menjadi yang terbesar jika dibandingkan komoditas mineral serta batu bara lainnya, seperti emas dan juga tembaga.

“Hingga 11 Desember 2023, PNBP dari royalti batu bara mencapai Rp94,59 triliun melampaui target pada PNBP 2023 sebesar Rp84,26 triliun,” kata Lana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *